Menu Bar

Jumat, 19 Juli 2013

Semarang dan Sejarahnya

Sebagai salah satu putra bangsa yang tinggal di kota Semarang, alangkah baiknya jikalau kita mengenal lebih dekat tentang kota Semarang. Semarang memiliki luas wilayah 373,67 km2 dengan 16 buah kecamatan, Semarang termasuk dalam jajaran kota besar di Indonesia.. Di kota Semaranglah, terdapat kawasan pendidikan dimana saya menempuh pendidikan perguruan tinggi, jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro. Semarang merupakan kota yang cukup menarik dan karena statusnya sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah. Sesuai dengan moment tahun ini, Visit Jateng 2013, Semarang merupakan tempat yang mempunyai beragam pariwisata yang menarik, kuliner yang khas, serta penduduk yang ramah tamah (eheem). Namun diluar semua itu, Semarang juga memiliki sejarahnya tersendiri, maka dari itu saya tulis di blog saya ini dengan sederhana.
Gambar Peta Eksisting Tata Guna Lahan Kota Semarang
Sumber: Bappeda Kota Semarang 2011


 Dahulu, Semarang adalah daerah pesisir yang bernama Pragota, di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Pada akhir abad ke-15 M, ditempatkan oleh Kerajaan Demak untuk menyebarkan agama Islam, seseorang yang bernama Pangeran Made Pandan (Ki Ageng Pandan Arang I). Ia lantas menjadikan daerah itu ramai dan menamainya “Semarang”.
Daerah pesisir itu, seiring perjalanan waktu, berkembang menjadi daerah yang besar. Sejak hari jadinya pada 2 Mei 1547, Semarang larut dalam beberapa kekuasaan asing. Sampai tanggal 15 Oktober 1945, melalui sebuah pertempuran sengit yang tenar sebagai “Pertempuran Lima Hari”, patriot-patriot Semarang membuktikan nasionalisme mereka dalam upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kota Semarang pada era pemerintahan modern, para pimpinan kota konsekuen hendak dikembangkan menjadi kota berbasis perdagangan dan jasa. Maka tak heran, dalam periode kepemimpinannya, beberapa sarana perdagangan benar-benar dimanjakan. Pelbagai pusat perbelanjaan terlihat menjamur di sudut-sudut utama kota.
Menurut situs Wikipedia, sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).
Gambar Klenteng Sam Po Kong
Sumber: www.google.com
Selain itu dari sumber yang sama mengenai sejarah penamaan kota semarang serta awal mula kependudukan belanda dikota tersebut yakni berawal pada akhir abad ke-15 M, yakni adanya seseorang yang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang. Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran II atau Sunan Pandanaran Bayat atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran). Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten.
Tanggal 2 Mei sebagai Hari jadi Kota Semarang
Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.
Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota msilik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Pada masa kependudukan belanda itulah semarang tumbuh menjadi satu kota pesisir yang pada masa itu dianggap sebgai kota dengan pertumbuhan yang maju pesat dengan segala pembangunannya.
Hasil dari pembangunan kota tersebut hingga kini masih dapat kita lihat dan rasakan dalam bentuk bangunan- dengan gaya arsitektur belanda serta beberapa bangunan yang mendapat pengaruh dari kebudayaan cina. Bangunan tersebut antara lain yakni gereja bledug serta bangunan-bangunan sekitar yang terdapat di Jl. Letjend. Suprapto, Klenteng Sam Po Kong, Bangunan Lawang Sewu, serta Stasiun Kereta Ambarawa.
Gambar Bangunan Gereja Blenduk dan Lawang Sewu
Sumber: Dokumentasi Penulis

Gambar Stasiun Kereta Api Ambarawa
Sumber: www.google.com
Namun, pembangunan yang diselenggarakan nampak timpang, kurang dapat dirasakan masyarakat tepian-kota. Perencanaan pembangunan tidak dilakukan secara saksama dan tepat guna. Kita dengan mudah dapat melihat bahwa di sana-sini telah terjadi kekacauan penataan kota. Buktinya, terjadi ketidakjelasan atas tipe wilayah macam apa yang hendak diselenggarakan. Semarang adalah kota yang aneh dengan pusat perbelanjaan dalam wilayah yang notabene merupakan area perkantoran dan pendidikan, pabrik-pabrik industri dalam area pemukiman padat penduduk. Seringkali terjadi pembangunan serampangan yang mengabaikan aspek lingkungan hidup. Contohnya, pembabatan pepohonan di wilayah Semarang bagian selatan, yang notabene adalah daerah resapan air hujan, dengan dalih kepentingan permukiman. Tentu saja kita, rakyat kecil, menjadi tak heran merasakan bencana alam yang tiap tahun menyambangi Semarang, dari banjir, tanah longsor, hingga rob.
Soekarno-300x226

Tatakota mutlak menjadi kajian pertama karena tatakota yang baik adalah gerbang awal penilaian masyarakat luar terhadap kota tersebut. Terlebih saya sebagai mahasiswa Perencana, selalu mengikuti perkembangan ketata ruangan di kota Semarang. Bila Semarang betul-betul ingin diproyeksikan sebagai kota yang maju, dengan perdagangan sebagai alatnya dan kesejahteraan warga sebagai tujuannya, tatakota mesti menjadi fokus perhatian utama. Semarang adalah kota pesisir sekaligus kota perbukitan yang unik. Semarang bagian bawah adalah pusat kota sejak dahulu kala, namun kian lama kian terkena imbas negatif dari pasang air laut (rob). Semarang bagian atas adalah wilayah baru yang tengah berkembang dengan pembangunan di sana-sini. Namun, wilayah baru itu tak melulu menghasilkan keuntungan, melainkan sebaliknya. Wilayah inilah sebenarnya yang merupakan kunci atas banjir dan tanah longsor selalu melanda Semarang.
Gambar Peta Rawan Amblesan Tanah di Semarang
Sumber: Bappeda Kota Semarang 2011
Gambar Peta Struktur Geologi di Semarang
Sumber: Bappeda Kota Semarang 2011
Pemerintahan baru ke depan mestinya sungguh-sungguh melihat posisi sulit dari kedua wilayah ini secara arif. Solusinya adalah dengan kembali kepada alam, dengan ikhtiar penuh mengembalikan fungsi pepohonan. Penggalakan yang berwujud penanaman bakau di beberapa garis pantai perlu diperkencang volumenya. Sebaliknya, pembabatan habis pepohonan di Semarang atas harus diimbangi dengan peremajaan kembali. Ada baiknya Pemerintah merancang ulang pola-pola perkotaan yang efektif. Artinya, pembangunan gedung, fasilitas jalan, dan sarana-prasarana masyarakat seyogianya diperhitungkan masak-masak. Dalam hal demikian, masyarakat umum seyogyanya turut dilibatkan dalam perencanaan pembangunan.

Sumber:
http://coretanpetualang.wordpress.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Semarang
http://sejarahsemarang.wordpress.com/2013/03/28/membangun-kota-semarang/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar